![]() |
| Sidang Isbath Pemerintah Awal Zulhijjah 1446 H yang lalu (Dok. Kemenag)/sekitarSULTRA.com. |
Jakarta, sekitarSULTRA.com — Penetapan 1 Syawal selalu bikin penasaran. Tahun ini, drama tanggal Lebaran kembali muncul. Muhammadiyah lebih dulu menetapkan Jumat, 20 Maret 2026, sementara sisi astronomi dan pemerintah mengarah ke Sabtu, 21 Maret 2026.
PP Muhammadiyah menggunakan Hisab Hakiki Wujudul Hilal berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). “Mau cepat pasti, ya begini caranya,” kata jemaah yang sudah biasa mengikuti metode ini. Mereka bisa menyiapkan salat Idul Fitri jauh-jauh hari, tanpa menunggu sidang isbat resmi.
Tapi prediksi BRIN lain ceritanya. Peneliti senior Thomas Djamaluddin menghitung, hilal pada 19 Maret 2026 belum memenuhi kriteria MABIMS (tinggi 3 derajat, elongasi 6,4 derajat). Artinya, secara astronomis, Idul Fitri kemungkinan jatuh Sabtu, 21 Maret 2026.
BMKG mendukung hitungan ini. Dari Merauke hingga Sabang, tinggi hilal saat matahari terbenam hanya 0,91–3,13 derajat, dengan elongasi 4,54–6,1 derajat. Masih di bawah standar minimal MABIMS.
Kalau mengacu pada kalender resmi Kementerian Agama maupun Almanak Falakiyah PCNU, Idul Fitri juga tercatat 21 Maret 2026. Artinya, Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari jika hilal gagal terlihat sesuai kriteria.
BMKG pun memberi peringatan tajam: “Jangan salah lihat bintang terang atau planet sebagai hilal,” kata mereka. Sebab salah deteksi, bisa bikin seluruh perhitungan dan tradisi masyarakat kacau.
Di tengah perbedaan ini, satu hal jelas: umat Islam Indonesia kembali diingatkan bahwa Lebaran bukan hanya soal tanggal, tapi soal kepastian, metode, dan akurasi ilmu falak. (Red)**


